Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Skripsi Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Skripsi Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Hubungan Antara Adversity Quotient Dan Resiliensi Pada Polisi Di Temanggung (Penelitian pada Polisi SatSabhara Resor Temanggung)

GITA KUSUMANINGTYAS
ABSTRAK
            Fenomena resiliensi pada polisi merupakan masalah yang perlu diperhatikan.Resiliensi tidak hanya penting di kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam dunia kerja.Hasil studi pendahuluan menunjukan tidak tingginya resiliensi polisi.Hal ini terkait dengan tidak tingginya adversity quotient yang dimiliki polisi. Lebih lanjut dalam penelitian ini akan dikaji hubungan antara adversity quotient dengan resiliensi pada polisi di Temanggung.
            Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional.Subjek pada penelitian ini berjumlah 60 orang polisi SatSabhara. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling atau penelitian populasi. Resiliensi diukur dengan menggunakan skala resiliensi. Item yang valid pada skala resiliensi yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai signifikansi koefisien validitas lebih kecil dari α 0,05 yaitu sebesar 0,000 sampai 0,048, sedangkan item yang tidak valid memiliki signifikansi koefisien validitas lebih besar dari α 0,05  yaitu sebesar 0,054 sampai 0,002, dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,924. Adversity quotient diukur dengan menggunakan skala adversity quotient. Item yang valid pada skala adversity quotient yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai signifikansi koefisien validitas lebih kecil dari α 0,05 yaitu sebesar 0,000 sampai  0,037, sedangkan item yang tidak valid memiliki signifikansi koefisien validitas lebih besar dari α 0,05 yaitu sebesar 0,083 sampai 0.156, dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,921.
            Hasil penelitian menunjukkan variabel resiliensi tergolong sedang.Demikian juga variabel adversity quotient tergolong sedang, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut yaitu asset, resiko dan adaptasi, yang cukup mendukung resiliensi. Hasil penelitiand engan resiliensi diperoleh koefisien r=0,379 dengan signifikansi atau p=0,003. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara adversity quotient dengan resiliensi pada Polisi di Temanggung.
            Polisi diharapkan dapat meningkatkan resiliensinya di dunia kerja.Instansi dan pihak Kepolisian dapat memberikan pelatihan tambahan dan masukan serta ilmu juga informasi yang tepat untuk membantu meningkatkan adversity quotient polisi dalam menghadapi kesulitan dan hambatan dalam dunia kerja sebagai aparat negara.

Kata kunci: adversity quotient, dan resiliensi

ABSTRACT
            The phenomenon of resilience in the police is a problem that needs attention. Resilience is not only important in everyday life but also in the world of work. The results of preliminary studies showed no high resilience police. It is associated with high adversity quotient owned by the police. Further research will be assessed the relationship between adversity quotient with resilience police in Temanggung.
            This research is a quantitative correlation. Subjects in this study amounted to 60 people SatSabhara police. The sampling technique used is total sampling or study population. Resilience was measured using a scale of resilience. Items that are valid on the resilience scale used in this study have significance validity coefficient is smaller than the 0.05 α of 0.000 to 0.048, while the invalid items have greater significance than the validity coefficient α is equal to 0.054 0.05 to 0.002, with a reliability coefficient of 0.924. Adversity quotient measured using scales adversity quotient. Items that are valid on adversity quotient scale used in this study have significance validity coefficient is smaller than the 0.05 α of 0.000 to 0.037, while the invalid items have significance validity coefficient greater than 0.05 α is equal to 0.083 to 0156 , with a reliability coefficient of 0.921.
            The results showed resilience variables being considered. Similarly, the variable adversity quotient is classified, it is caused by several factors, namely asset, risk and adaptation, adequate support resilience. Results obtained resilience ith coefficient r = 0.379 with a significance or p = 0.003. It shows that there is a significant positive relationship between adversity quotient with resilience Police in Temanggung.
            Police expected to increase they resilience in the workplace. Agencies and the police to provide additional training and knowledge input and also the right information to help improve the police in the face of adversity quotient difficulties and obstacles in the world of work as the state apparatus.

Keywords: adversity quotient, and resilience

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN INTERPERSONAL DENGAN PERILAKU KENAKALAN REMAJA PADA SISWA SMA N 1 GROBOGAN

FITRIA APRILIA
ABSTRAK
Perilaku kenakalan remaja semakin meningkat terutama di kota-kota besar dari mulai kenakalan biasa, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran serta pelanggaran khusus. Kenakalan remaja tingkat biasa juga terdapat di SMA N 1 Grobogan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya siswa yang terdaftar pada KTP-siswa karena melakukan pelanggaran terhadap peraturan sekolah.  Perilaku kenakalan remaja dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Salah satu sifat yang dibawa sejak lahir adalah kecerdasan interpersonal. Kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan dan keterampilan seseorang untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi serta menghadapi orang lain ataupun lingkungan dengan cara yang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan interpersonal (X) dengan perilaku kenakalan remaja (Y) pada siswa SMA N 1 Grobogan.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMA N 1 Grobogan yang tercatat pada buku KTP-siswa. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling atau penelitian populasi dengan jumlah populasi 191 siswa. Kecerdasan interpersonal diukur menggunakan skala kecerdasan interpersonal yang terdiri dari 45 item  dan perilaku kenakalan remaja diukur menggunakan angket perilaku kenakalan remaja yang berjumlah 39 item.
Analisis validitas menggunakan product moment dimana instrumen skala kecerdasan interpersonal dinyatakan valid dengan koefisien validitas tertinggi sebesar 0,651 dan terendah sebesar 0,159. Validitas tertinggi pada angket perilaku kenakalan remaja sebesar 0,628 dan terendah sebesar 0,164. Koefisien reliabilitas skala kecerdasan interpersonal sebesar 0,735 dan koefisien reliabilitas angket perilaku kenakalan remaja sebesar 0,736.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kecerdasan interpersonal dengan perilaku kenakalan remaja yang artinya jika kecerdasan interpersonal berada pada kategori tinggi maka perilaku kenakalan remaja berada pada kategori rendah, begitupun sebaliknya. Hasil ini dapat dilihat berdasarkan analisis korelasi Product Moment yang menunjukkan bahwa nilai r = -0,404 dengan nilai signifikansi atau p = 0,000. Peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis kerja yang berbunyi “ada hubungan negatif antara kecerdasan interpersonal dengan perilaku kenakalan remaja”, diterima.
Kata Kunci : Perilaku, Perilaku Kenakalan Remaja, Kecerdasan Interpersonal


ABSTRACT


Behavior of juvenile delinquency has increased, especially in the big cities ranging from ordinary delinquency, delinquency leading to the offense and the specific offense. Delinquency rate is also commonly found in senior high school  Grobogan. This is evidenced by the number of students enrolled on the student ID card for a foul against school rules. Juvenile behavior is influenced by factors extrinsic and intrinsic factors. Intrinsic factor is a factor that comes from within the individual. One of the properties that are innate interpersonal intelligence. Interpersonal intelligence is the ability and skill to creating, building and maintaining relationships and dealing with other people or the environment in an effective way. The purpose of this study was to determine the relationship between interpersonal intelligence (X) with juvenile behavior (Y) at senior high schoolN 1 Grobogan high school students.
This research is a quantitative correlation. The population in this study were high school students N 1 Grobogan recorded on the book-student ID card. This study uses total sampling technique or study population with a population of 191 students. Interpersonal intelligence interpersonal intelligence was measured using a scale consisting of 45 items and juvenile behavior was measured using a questionnaire syang juvenile behavior at 39 item. Analysis of the validity of using the product moment where the instrument is declared invalid
interpersonal intelligence scale with the highest validity coefficient of 0.651 and a low of 0.159. The validity of the questionnaire highest delinquency behavior at 0.628 and the lowest was 0.164. Interpersonal intelligence scale reliability coefficient of 0.735 and a behavioral questionnaire reliability coefficient of 0.736 delinquency.
The results in this study indicate that there is a negative relationship between interpersonal intelligence juvenile behavior that pales in the category of interpersonal intelligence higher then the behavior of juvenile delinquency in the category of low, and vice versa. These results can be seen by Product Moment Correlation analysis showed that the value of r = -0.404 with a significance value or p = 0.000. Researchers concluded that the working hypothesis which says "there is a negative relationship between interpersonal intelligence juvenile behavior" unacceptable.
Keywords: Behavior, Juvenile Delinquency, Interpersonal intelligence


IDENTITAS DIRI REMAJA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 PEMALANG DITINJAU DARI JENIS KELAMIN

Fisnanin Purwanti, Sugeng Hariyadi, Rahmawati Prihastuty
Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Semarang Indonesia
Kampus Sekaran Gunungpati Gedung A1  Lt. 2.
purwantifisnanin@rocketmail.com

Identity can be shaped by many factors, one of which is gender. Teens can seek positive self-identity formation in various ways. Identification of differences in adolescents between men and women can be seen from how teens are successful in the search for identity dirinya.Untuk get more reliable results about the differences in adolescent identity, then do the research. The purpose of this study was: (1) the identity of students in class XI at SMAN 2 Pemalang., (2) determine the identity differences in class XI student of SMAN 2 Pemalang in terms of gender.
This study was conducted at SMA N 2 Pemalang. Subjects numbered 78 people were determined using the technique of Proportional Sample. Identity was measured using Identity scale comprising 55 items. Identity of the scale reliability coefficient of 0.952. Test differences using the Mann-Whitney U technique Test with SPSS 17.0 for windows.
Hypothesis test results showed a significant difference between self-identity in the male students and female students. Identity of the boys with an average value of 208.44 is higher than the female students' self-identity on the average value of 190.64 which means that male students have a more positive self-identity than female students.

Keywords: identity, Adolescence, gender
ABSTRAK
Identitas diri dapat dibentuk oleh banyak faktor salah satu diantaranya adalah jenis kelamin. Remaja dapat mengupayakan pembentukan identitas diri positif dengan berbagai cara. Adanya perbedaan Identitas diri remaja antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari bagaimana remaja tersebut sukses dalam pencarian identitas dirinya.Untuk mendapatkan hasil yang lebih terpercaya mengenai perbedaan identitas diri remaja, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui identitas diri pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang.; (2) mengetahui adanya perbedaan identitas diri  pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang ditinjau dari jenis kelamin.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 Pemalang. Subjek penelitian berjumlah 78 orang yang ditentukan menggunakan teknik Proportional Sample. Identitas diri diukur dengan menggunakan skala Identitas diri yang terdiri dari 55 item. Koefisien reliabilitas skala Identitas diri sebesar 0,952. Uji perbedaan menggunakan teknik Mann-Whitney U Test dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows.
Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara identitas diri pada siswa laki-laki dan siswa perempuan. Identitas diri pada siswa laki-laki dengan nilai rata-rata 208,44 lebih tinggi dibandingkan dengan identitas diri pada siswa perempuan nilai rata-rata 190,64 yang berarti siswa laki-laki mempunyai identitas diri yang lebih positif dibandingkan siswa perempuan.


Kata Kunci : identitas diri, remaja, jenis kelamin

IDENTITAS DIRI REMAJA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 PEMALANG DITINJAU DARI JENIS KELAMIN

Fisnanin Purwanti, Sugeng Hariyadi, Rahmawati Prihastuty
Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan  Universitas Negeri Semarang Indonesia
Kampus Sekaran Gunungpati Gedung A1  Lt. 2.
purwantifisnanin@rocketmail.com

Identity can be shaped by many factors, one of which is gender. Teens can seek positive self-identity formation in various ways. Identification of differences in adolescents between men and women can be seen from how teens are successful in the search for identity dirinya.Untuk get more reliable results about the differences in adolescent identity, then do the research. The purpose of this study was: (1) the identity of students in class XI at SMAN 2 Pemalang., (2) determine the identity differences in class XI student of SMAN 2 Pemalang in terms of gender.
This study was conducted at SMA N 2 Pemalang. Subjects numbered 78 people were determined using the technique of Proportional Sample. Identity was measured using Identity scale comprising 55 items. Identity of the scale reliability coefficient of 0.952. Test differences using the Mann-Whitney U technique Test with SPSS 17.0 for windows.
Hypothesis test results showed a significant difference between self-identity in the male students and female students. Identity of the boys with an average value of 208.44 is higher than the female students' self-identity on the average value of 190.64 which means that male students have a more positive self-identity than female students.

Keywords: identity, Adolescence, gender
ABSTRAK
Identitas diri dapat dibentuk oleh banyak faktor salah satu diantaranya adalah jenis kelamin. Remaja dapat mengupayakan pembentukan identitas diri positif dengan berbagai cara. Adanya perbedaan Identitas diri remaja antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari bagaimana remaja tersebut sukses dalam pencarian identitas dirinya.Untuk mendapatkan hasil yang lebih terpercaya mengenai perbedaan identitas diri remaja, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui identitas diri pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang.; (2) mengetahui adanya perbedaan identitas diri  pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang ditinjau dari jenis kelamin.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 Pemalang. Subjek penelitian berjumlah 78 orang yang ditentukan menggunakan teknik Proportional Sample. Identitas diri diukur dengan menggunakan skala Identitas diri yang terdiri dari 55 item. Koefisien reliabilitas skala Identitas diri sebesar 0,952. Uji perbedaan menggunakan teknik Mann-Whitney U Test dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows.
Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara identitas diri pada siswa laki-laki dan siswa perempuan. Identitas diri pada siswa laki-laki dengan nilai rata-rata 208,44 lebih tinggi dibandingkan dengan identitas diri pada siswa perempuan nilai rata-rata 190,64 yang berarti siswa laki-laki mempunyai identitas diri yang lebih positif dibandingkan siswa perempuan.


Kata Kunci : identitas diri, remaja, jenis kelamin

KOMITMEN BERAGAMA DAN EMOTIONAL INTELLIGENCE PECANDU NARKOBA (STUDI DESKRIPTIF PADA SISWA DI YAYASAN RUMAH DAMAI GUNUNG PATI SEMARANG)

FERRY SILITONGA
ABSTRAK
            Penyalahgunaan narkoba di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penggunaan narkoba akan memberikan dampak sangat buruk bagi para pelakunya, baik secara fisik, psikologis, dan sosial. Untuk menangani para pecandu narkoba ini, pemerintah menyelenggarakan rehabilitasi yang bersifat medis dan sosial. Rumah Damai merupakan rehabilitasi sosial dengan pendekatan agama. Menjalani rehabilitasi dengan pendekatan agama tidaklah mudah. Oleh karena itu dibutuhkan kualitas individu untuk dapat tetap bertahan dan dapat kembali lagi ke tengah-tengah masyarakat, di antaranya komitmen beragama dan emotional intelligence. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran komitmen beragama dan emotional intelligence mantan pecandu narkoba.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan skala dan angket sebagai metode pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian populasi, yaitu pecandu narkoba di Rumah Damai. Validitas dan reliabilitas instrumen dianalisis menggunakan SPSS 17. Analisis validitas menggunakan product moment dimana instrumen dinyatakan valid dengan koefisien validitas tertinggi sebesar 0,752 dan terendah sebesar 0,060. Analisis reliabilitas menggunakan koefisien alpha dimana instrumen dinyatakan reliabel untuk digunakan dalam penelitian dengan nilai koefisien reliabilitas skala komitmen bergama sebesar 0,938 serta koefisien reliabilitas skala emotional intelligence sebesar 0,955.
            Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen beragama dan emotional intelligence mantan pecandu narkoba di Rumah Damai berada pada kategori tinggi. Komitmen beragama dan emotional intelligence berada pada titik tertinggi ditunjukkan oleh kelompok mantan pecandu narkoba menjalani 7-12 bulan rehabilitasi, mereka yang baru pertama kali masuk rehabilitasi, dan usia mereka yang masih relatif muda (19-30 tahun). Tingkat komitmen beragama dan emotional intelligence yang lebih rendah ditunjukkan oleh kelompok subjek yang telah menjalani rehabilitasi selama 1 tahun lebih, mejalani rehabilitasi lebih dari 1 kali, dan usia yang semakin bertambah (31-45 tahun).

Kata kunci: komitmen beragama, emotional intelligence, pecandu narkoba
ABSTRACT
Drug abuse in Indonesia show trend that increase year by year. Drug abuse has serious effects to who abuse it, effects physics, psychologies, and social. In order to maintain this problem, government establishes rehabilitation with medic treatment and social treatment. Rumah Damai (House of Peace) is social rehabilitation centre with religious approach. Go through rehabilitation with religious approach is hard to get it done. Rehabilitation is hard, so that it need individual qualities to endure and come back to society as normal people, such as religious commitment and emotional intelligence. This research purpose is to see religious commitment and emotional intelligence state in drug abuser.

This research use quantitative descriptive approach with psychological scale and questionnaire as main data collecting method. Data analysis use descriptive analysis technique. This research is population research with population of drug abuser in Rumah Damai. SPSS 17 used to analysis instrument’s validity and reliability. Validity analysis use product moment formula with the highest validity coefficient 0.752 and the lowest point 0.060. Reliability analysis use alpha coefficient as formula. Religious commitment reliability is 0.938 and emotional commitment reliability is 0.955. Because have high reliability point, instrument in this research officially to use in this research.

Research result shows that religious commitment and emotional intelligence drug abuser in Rumah Damai in high level state. Religious commitment and emotional intelligence highest point state in group of drug abuser who have been going through rehabilitation for 7-12 months, who took rehabilitation for the first time, and group of younger abuser (19-30 years). The lower religious commitment and emotional intelligence shows of group of drug abuser who have been going through rehabilitation more than 1 year, who have rehabilitated more than one times, and older abuser group (31-45 year).
           

Keywords: religious commitment, emotional intelligence, drugs user 

KECENDERUNGAN DEPRESI POSTPARTUM DITINAJU DARI STATUS EKONOMI DI KABUPATEN BANJARNEGARA

Eka Widiastuti, Edy Purwanto dan Dyah Indah Noviyani
Jurusan Psikologi FIP Universitas Negeri Semarang
Semarang 50229, Indonesia
Email: eccha_caby@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan kecenderungan depresi postpartum pada ibu pasca persalinan ditinjau dari status ekonomi. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu pasca persalinan yang usia bayi tidak lebih dari satu tahun, antara 7 hari sampai 12 bulan di Kabupaten Banjarnegara. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster sampling, diperoleh tiga kecamatan sebagai sampel penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kecenderungan depresi postpartum (skala EPDS yang sudah diadaptasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan depresi postpartum pada ibu yang berasal dari status ekonomi bawah lebih tinggi dari pada ibu yang berasal dari status ekonomi menengah dan atas. Hipotesis penelitian diterima, yaitu ada perbedaan yang signifikan antara kecenderungan depresi postpartum pada ibu yang berasal dari status ekonomi bawah, menengah dan atas.

Kata kunci : Status Ekonomi, Kecenderungan, Depresi Postpartum

ABSTRACT

This study aimed to examine differences in the tendency of postpartum depression in mothers after childbirth in terms of economic status. The population in this study is that the age of the mother after delivery the baby is not more than one year, between 7 days to 12 months in Banjarnegara district. In this study, sampling was done by using cluster sampling, obtained three districts as the study sample. Method of data collection using propensity scale postpartum depression (EPDS scale that has been adapted). The study showed that the trend of postpartum depression in mothers who come from lower economic status is higher than in women who come from middle and upper economic status. Research hypothesis is accepted, ie there is a significant difference between the trend of postpartum depression in women from lower economic status, middle and top.

Keywords: Economic Status, Trends, Postpartum Depression


HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT DAN KOMITMEN TERHADAP TUGAS

Dini Widyaningsih, Sugeng Hariyadi dan Rahmawati Prihastuti
Jurusan Psikologi FIP Universitas Negeri Semarang
Semarang 50229, Indonesia

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji keberadaan hubungan antara adversity quotient dan komitmen terhadap tugas. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik two stage cluster sampling, diperoleh dua jurusan sebagai sampel penelitian. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan skala komitmen terhadap tugas dan skala adversity quotient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki komitmen terhadap tugas yang tergolong dalam kriteria tinggi, demikian pula dengan adversity quotient mahasiswa juga tergolong dalam kriteria tinggi. Hipotesis penelitian diterima, yaitu ada hubungan positif antara adversity quotient dan komitmen terhadap tugas. Dimana semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi pula komitmen terhadap tugas, dan sebaliknya.

Kata kunci: adversity quotient; komitmen terhadap tugas

ABSTRACT

This study aims to examine the existence of the relationship between adversity quotient and task commitment. The population in this study were students Semarang State University (Unnes). In this study, sampling was done by using two stage cluster sampling, obtained two majors as a sample. Method of data collection using a scale of task commitment and the scale of adversity quotient. The results showed that the students are committed to the tasks that belong to the high criteria, as well as students adversity quotient is also quite high in the criteria. Research hypothesis is accepted, ie there is a positive relationship between adversity quotient and task commitment. Where the high adversity quotient, the higher the task commitment, and vice versa.